BAB I
PENDAHULUAN
A.. Latar Belakang
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban
manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari
proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi
komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh
seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan
permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan
globalisasi untuk kepentingan kehidupan.
Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul
sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi
baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi
begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi
sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.
Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai
dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut
mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai
pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas
dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara
lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola
konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain.
Konsep
akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia
secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin
meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini
penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan
intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara
budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang.
Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau
menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian
lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia
dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi
seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan
koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke
berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita.
B. Rumusan Masalah
Agar makalah ini tidak terlalu melebar maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
Dalam
perkembangannya globalisasi menimbulkan berbagai masalah dalam bidang
kebudayaan,misalnya :
a.
Hilangnya
budaya asli suatu daerah atau suatu negara
b. Terjadinya erosi nilai-nilai budaya,
c.
Menurunnya
rasa nasionalisme dan patriotisme
d. Hilangnya sifat kekeluargaan dan
gotong royong - kehilangan kepercayaan diri
e.
Gaya hidup
kebarat-baratan
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan karya ilmiah ini yaitu :
1. Mengetahui pengaruh globalisasi
terhadap eksistensi kebudayaan daerah dan juga terhadap kehidupan social bagi
bangsa Indonesia.
2. Untuk meningkatkan kesadaran remaja
untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan
jati diri bangsa.
D. Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah
ini adalah metode Studi Kepustakaan baik dari buku ataupun referensi lain yang
mendukung, salah satunya adalah internet.
E. Tinjauan
Pustaka
a. Pengertian Globalisasi
Seorang ahli sosiologi, Selo Soemardjan
mendefinisikan globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi
antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang
sama.
Globalisasi merupakan kecenderungan masyarakat untuk menyatu
dengan dunia, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan media
komunikasi massa. Selain itu, para cendekiawan Barat mengatakan bahwa
globalisasi merupakan suatu proses kehidupan yang serba luas, tidak terbatas,
dan merangkum segala aspek kehidupan, seperti politik, sosial, dan ekonomi yang
dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia di dunia. Globalisasi pada hakikatnya
adalah proses yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang dampaknya berkelanjutan
melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan. Mengingat bahwa dunia ditandai
oleh kema jemukan (pluralitas) budaya maka globalisasi sebagai prosesjuga
ditandai sebagai suatu peristiwa yang terjadi di seluruh dunia secara lintas
budaya yang sekaligus mewujudkan proses saling memengaruhi antarbudaya.
Pertemuan antarbudaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua arah yang
berimbang, tetapi dapat juga sebagai proses dominasi budaya yang satu terhadap
lainnya. Misalnya pengaruh budaya Barat lebih kuat terhadap budaya di negara
Timur.
Hal ini seperti yang dikatakan seorang ahli bernama R.
Robertson bahwa globalisasi adalah proses mengecilnya dunia dan
meningkatnya kesadaran akan dunia sebagai satu kesatuan, saling ketergantungan
dan kesadaran global akan dunia yang menyatu. Ahli lain bernama Martin Albrow
mengatakan globalisasi menyangkut seluruh proses di mana penduduk dunia
terhubung kedalam komunitas dunia yang tunggal, komunitas global.
b. Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa
Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu
mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.
Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan
manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan
menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi
tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian
aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang
terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya
secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam
tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.”
F. Landasan Teori
a.
Pengertian Globalisasi
b.
Pengertian Budaya
c.
Keterkaitan Globalisasi dan Budaya
G. Rumusan Hipotesis
Adanya globalisasi yang
memiliki dampak positif maupun negative, maka perlu adanya tindak lanjut dalam
menyikapi globalisasi tersebut. Adapun tindakan-tindakan yang dapat dilakukan
yaitu :
1.
Menambah
porsi pengetahuan tentang kebudayaan bangsa di sekolah-sekolah baik mulai dari
tingkat SD sampai perguruan tinggi
2.
Menyeleksi
kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative.
3. Mengadakan berbagai pertunjukan kubudayaan
4. Menyaring budaya yang masuk ke Indonesia, serta memilah dan memilih mana
budaya yang baik dan mana budaya yang merugikan karakter
warga Indonesia.
H. Metodelogi
Penyusunan Laporan
Laporan ini dibuat sebagai sarana
untuk menambah pengetahuan dan sebuah karya tulis yang melaporkan tentang
pengaruh Globalisasi
terhadap social budaya. Laporan ini dibuat berdasarkan standart daftar isi
laporan karya ilmiah.
I.
Lokasi
Penelitian
Penelitian ini sebagian besar dilakukan di lingkungan
sekolah,
pada khususnya dan Negara Indonesia pada umumnya dengan menggunakan failitas Wifi
sekolah.
J. Sumber Data
Data yang kami dapatkan untuk membuat karya ilmiah ini sebagian besar kami peroleh dari
internet dan diskusi dengan teman-teman satu kelas.
K. Metode Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data / informasi yang digunakan untuk pengumpulan dataadalah
sebaigai berikut :
1. Observasi
Yaitu suatu kegiatan mengamati kegiatan remaja diluar
sekolah melalui media sosial ataupun terjun langsung untuk mendapatkan data
yang akurat.
2. Diskusi
Yaitu
proses penggalian informasi lebih lanjut dengan berdiskusi denganbeberapa teman
sekelas dan teman lainya dalam linkup satu sekolah.
3. Keterlibatan
Langsung
Yaitu kegiatan berbaur dengan remaja
yang paling up date dalam masalah budaya asing yang masuk ke Indonesia dalam lingkup
sekolah.
4. Browsing
Yaitu
kegiatan memperoleh informasi dengan memanfaatkan jaringan internet
L. Jumlah Sampel
/ Responden
Sampel yang menjadi acuan kami untuk
menyusun karya tulis ini terdiri atas:
a. Siswa – siswi SMK N 1 Ponorogo
b. Para pemuda Kab. Ponorogo
c. Masyarakat Indonesia pada umunya
Kami belum mengetahui persis jumlah
sampel tersebut, akan tetapi tafsiran kami terhadap sampel tersebut, kurang
lebih sejumlah 500 orang
BAB II
ANALISIS & PEMBAHASAN
A. Globalisasi dan Budaya
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad
ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus
bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek
kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait
dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang
dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat
terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai
wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan
(Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional
kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek
kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran.
Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila
disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada
dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran
dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari
kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan
bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya.
Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput
dari pengaruh globalisasi.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat,
hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam
memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang
tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam
globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh
negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka
yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru
negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia
selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang
seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana
globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.
Komunikasi dan transportasi internasional telah
menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa
cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga
melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya
mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai
budaya dan nilai-nilai budaya.
Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha
menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat
melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni,
dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan
memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing.
Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang
bermanfaat dan menambah pengalaman mereka. Terkait dengan seni dan budaya,
Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku
dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya
terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa
pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari
indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing
yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme,
kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.
B. Globalisasi Dalam Kebudayaan
Tradisional Di Indonesia
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam
interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat
lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami
nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan
mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan
manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang
senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat.
Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah
berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju
perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa
Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh
luar.
Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar,
hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi
bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna
budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti.
Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai
(values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga
masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat
didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan
hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam
kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi
berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat
dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila
disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada
dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil
pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari
kebudayaan.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam
berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah
geografisnya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan
pula dalam berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat
dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat
mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang dikembangkannya
itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.
C. Kesenian Yang Bertahan Dan Yang
Tersisihkan
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat
tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang
lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai
dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu
pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan
sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap
bangsa.
Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada
globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara
menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan
yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang
ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari
negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun
televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap
melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia.
Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd,
dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di
tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa
negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam
globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga.
Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan
berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional
kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga
kelestariannya. Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin
canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan
dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan
dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan
berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai
belahan bumi.
Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin
tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia
yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja
bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun
istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian.
Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses
industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka
kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial.
Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan
fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita
lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya,
bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses
modernisasi.
Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi
telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif
pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat
tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya
akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang
Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi
seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang
merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya
akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai
moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang
sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah
mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari
mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena
demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga
dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia.
Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja
dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap
eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu
beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah
menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional
“Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat.
Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar
tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi,
bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak
termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan
perubahan zaman.
Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan
dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit.
Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom
Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun
pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak
beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai
bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan
nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari
kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang
kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu
atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional
D. Kesenian Rakyat Dalam Orientasi
Globalisasi
Pada era globalisasi saat ini, eksistensi atau keberadaan
kesenian rakyat berada pada titik yang rendah dan mengalami berbagai tantangan
dan tekanan-tekanan baik dari pengaruh luar maupun dari dalam. Tekanan
dari pengaruh luar terhadap kesenian rakyat ini dapat dilihat dari pengaruh
berbagai karya-karya kesenian populer dan juga karya-karya kesenian yang lebih
modern lagi yang dikenal dengan budaya pop[4]. Kesenian-kesenian populer
tersebut lebih mempunyai keleluasan dan kemudahan-kemudahan dalam berbagai
komunikasi baik secara alamiah maupun teknologi., sehingga hal ini memberikan
pengaruh terhadap masyarakat. Selain itu, aparat pemerintah nampaknya
lebih mengutamakan atau memprioritaskan segi keuntungan ekonomi (bisnis)
ketimbang segi budayanya, sehingga kesenian rakyat semakin tertekan lagi.
Segi komersialisasi yang dilakukan oleh aparat pemerintah
ini tentu saja didasarkan atas pemikiran yang pragmatis dan cenderung
mengikuti perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang ada.
Dengan demikian, pengaruh ini jelas-jelas mempunyai dampak yang besar terhadap
perkembangan dan kreativitas kesenian rakyat itu sendiri.Di pihak lain, adanya
masyarakat yang masih setia kepada tradisinya perlahan-lahan mengikuti
perkembangan pembangunan.
Kebanyakan hal tersebut (kesenian tradisional) ini tidak
dapat bangun lagi karena kerasnya daya saing dengan kesenian-kesenian yang
sangat modern. Sementara itu pemerintah hampir tidak peduli lagi dengan
keadaan kesenian tradisional di daerah. Hal ini, bisa saja
disebabkan oleh adanya asumsi-asumsi yang dikaitkan dengan
konsep-konsep dasar pembangunan di bidang kesenian yang penekanannya dan
intinya melestarikan dan mengembangkan kesenian yang bertaraf dengan
kecenderungan universal. Sehingga, kesenian-kesenian yang ada sekarang
ini dapat dianggap tidak sesuai dengan objek-objek dan tujuan dari
pembangunan yang sedang dijalankannya ini. Dengan kata lain, bahwa
keaslian dari suatu kesenian dipandang belum dapat dibanggakan sebagai bukti
keberhasilan suatu pembangunan di daerahnya.
Sesungguhnya, bagi kesenian rakyat Indonesia, kesempatan
untuk mengadaptasi pemikiran Naisbitt sangat cukup terbuka, karena
kekayaan kesenian yang dimiliki bangsa Indonesia sangat memadai untuk
dikembangkan ke dunia Internasional. Sebagai salah satu contoh, misalnya tari
Piring dari Sumatra Barat. Tari Piring ini sesungguhnya sangat potensial
untuk dikembangkan menjadi lebih modern lagi melalui kolaborasi. Untuk
menuju kepada tindakan ini harus ada upaya atau perbaikan–perbaikan yang perlu
diperhatikan agar kemasan kesenian tradisional bangsa Indonesia dapat diterima
dan berkembang secara global, walaupun tetap mengacu pada kekuatan nilai-nilai
asli/lokal.
E. Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya
Bangsa
Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh
terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan
telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap
memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi,
Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk
melestarikan budaya negeri sendiri .
Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong
royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di
Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak
remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading
(alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan,
remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Saat
ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah
tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di
televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII).
Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola
dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan
untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan
yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya.
F.
Pengaruh Globalisasi Bidang Sosial Budaya
Ada dua faktor pendukung
munculnya globalisasi yaitu berkembang pesatnya teknologi komunikasi dan adanya
integrasi ekonomi. Namun meski hanya 2 faktor pendukung, dampak globalisasi
merambat pada segala sekor yang ada. Dan pengaruh Globalisasi bidang Sosial
Budaya yang paling dapat kita rasakan adalah “Masuknya Budaya Barat”. Budaya
Barat sangat bertentangan dengan Bangsa Asia khusunya Indonesia yang dianggap
Budaya Timur. Di era Globalisasi ini, dengan mudahnya Budaya Barat masuk
melalui media internet, tv, ataupun media cetak yang kemudian diserap oleh
banyak kaum muda. Hal ini saling berkesinambungan dengan pengaruh buruk lainnya
dari globalisasi.
a.
Dampak
Negatif
Bagi Bangsa Asia, Masuknya Budaya Barat dapat menyebabkan:
1.
Cultur Shock
Biasanya ditandai dengan
perubahan budaya maupun kebiasaan dalam masyarakat. Norma masyarakat yang
sebelumnya menjadi pedoman bagi seseorang bertindak perlahan lahan berubah
menjadi longgar.Misalnya kebiasaan memberikan salam dan mencium tangan pada
orang tua sudah pudar di kalangan generasi muda. Pudarnya budaya atau kebiasaan
pada masyarakat seperti memberikan salam dan mencium tangan pada orang tua
sudah pudar di kalangan generasi muda sebagian besar disebabkan oleh masuknya budaya
Barat. Memberi salam atau mencium tangan orang tua sudah tergantikan oleh
“CipikaCipiki” yang diperkenalkan budaya Barat. Padahal ini tidak sesuai dengan
Bangsa Timur yang lebih mengedepankan etika dalam bermasyarakat. Terlebih dalam
Agama Islam “CipikaCipiki” dianggap dosa bila dengan lawan jenis.
2.
Sikap Meniru
a. Meniru perilaku yang buruk
Banyak sekali adegan dalam film Barat yang tidak
sepatutnya dicontoh oleh kaum muda. Misalnya perkelahian antarpelajar dan
pelajar yag terintimidasi dalam sekolah.
b. Meniru Idola
|
3.
Style (cara
berpakaian) Bangsa Barat
Barat yang identik dengan
liberalisme, sangat bebas dalam berpakaian. Dan karena trend pakaian dunia
berkiblat pada bangsa Barat, maka style/cara berpakaian bangsa Barat pun
perlahan masuk dalam budaya kita dan berpakaian sangat sexy dengan rok pendek
sudah mejadi hal yang lumrah.
4.
Cultur lag
(kesenjangan budaya)
Cultur lag ditandai dengan
kebiasaan anggota masyarakat melanggar aturan atau hukum. Hal yang tidak biasa
dalam masyarakat kini telah menjadi lazim untuk dilakukan. Hal ini akibat
kebebasan yang diajarkan budaya Barat sehingga dirasa terlalu bebas tanpa
disertai tanggung jawab.
5.
Sekularisme/Sekulerisme
Merupakan Ideologi yang
menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau
kepercayaan. Dalam kajian keagamaan, masyarakat dunia barat pada umumnya di
anggap sebagai sekular. Hal ini di karenakan kebebasan beragama yang hampir
penuh tanpa sangsi legal atau sosial, dan juga karena kepercayaan umum bahwa
agama tidak menentukan keputusan politis. Tentu saja, pandangan moral yang
muncul dari tradisi kegamaan tetap penting di dalam sebagian dari negaranegara
ini. Meningkatnya pengaruh sekularisme menyebabkan menurunnya pengaruh agama di
dalam Negara. Orangorang akan mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan
rasionalisme dan menjaduh dari agama dan takhyul.
Selain Masuknya Budaya Barat
yang menjadi akar dari semua dampak negatif Globalisasi bidang sosial budaya,
ada unsur lain yang ikut berperan dalam hal ini yaitu “Kemajuan IPTEK”.
Kemajuan IPTEK adalah dampak positif dari globalisasi dalam bidang Teknologi,
namun ini sedikit banyak membawa dampak negatif bidang Sosial Budaya yang
diantaranya melahirkan gaya hidup yang:
a.
Mewah
Suatu gaya hidup yang
mengedepankan merk dari barangbarang yang dikonsumsinya. Segala sesuatunya
haruslah mewah denga harga yang menakjubkan.
b. Individualistis
Dulu
sosialisasi hanya dapat terjadi jika kita pergi keluar rumah, menyapa tetangga ataupun mengobrol. Namun dizaman modern
ini, hanya dengan duduk dialam rumah
dengan internet, bahkan kita bisa bersosialisasi dengan orangorang yang
berada sangat jauh. Inilah akar dari
individualistis yang tercipta karena tidak bersosialisasi secara langsung. Hal
ini akan sangat fatal karena menciptakan seseorang dengan sikap yang tidak
memperdulikan orang lain selain dirinya.
c.
Pragmatisme
Pragmatisme adalah sikap yang
menilai sesuatu dari untung ruginya bagi diri sendiri. Padahal menolong tanpa
pamrih adalah pelajaran dasar dalam bermasyarakat. Tapi semakin majunya jaman,
menyebabkan lunturnya nilai nilai gotong royong dan tolongmenolong. Individu
lebih mengarahkan pada kegiatan yang menguntungkan saja.
d.
Matrealisme
Suatu paham yang menilai segala
sesuatunya dengan materi dan selalu berusaha memperkaya diri dengan materi
berlebih. Gaya hidup seperti ini sepatutnya dihindari karena tidak semua barang
dapat dinilai secara materi.
e.
Hedonisme
Hedonisme menjiwai para
pengusaha lokal yang hidup di beberapa negara miskin. Mereka meraih keuntungan yang
banyak dengan cara menggali sumber daya alam tanpa batas. Tangantangan
merekalah yang telah menggunduli hutan, mengotori sungai, mencemari ekosistem
laut, dan penebar racun di udara. Para pengusaha lokal tersebut memperkaya diri
mereka demi sebuah
kesenangan hidup. Padahal secara tidak langsung, mereka telah menghancurkan
keseimbangan alam dan menghilangkan mata pencaharian bagi orangorang yang
bergantung pada alam.
f.
Permisif
Suatu paham yang membiarkan
sesuatu hal yang dianggap tabu untuk diperlihatkan. Contoh dari pemahaman ini
adalah Bangsa Barat yang mengajarkan untuk bertelanjang dada untuk pria bahkan
sebagian wanita Barat yang ekstrem ikut bertelanjang dada. Sikap permisif
tersebut berangsurangsur mulai tumbuh dikalangan kaum pria. Tapi untuk kaum
wanita kebanyakan tentunya tidak melakukan hal demikian. Terlebih aturan
beberapa negara terutama bangsa Timur yang sangat membatasi.
g.
Konsumerisme
Konsumerisme merupakan paham
atau aliran atau ideologi dimana seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan
proses konsumsi atau pemakaian barang barang hasil produksi secara berlebihan
atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Dan inilah hal yang
paling sering terjadi seperti berbelanja pakaian terlalu banyak. Padahal
pakaian
tersebut tidak semuanya dipakai dalam kehidupan
seharihari.
h.
Sikap yang Serba
Instant
Era Globalisasi membuat mudah
segala sesuatunya. Ingin makan mie, cukup menyeduh mie instant. Ingin makan
bubur, cukup menyeduh bubur instant. Ingin makanan dalam waktu singkat, cukup pesan
fast food. Serba instant yang hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Namun
bukan berarti hal tersebut bagus. Sikap yang serba instant akan mengantarkan
pada sifat yang tidak sabaran. Terlebih semua makanan yang instant berdampak
negatif pada kesehatan tubuh.
i.
Malas & Lalai
Seiring berkembangnya zaman,
masyarakat beralih dari penggunaan Radio menjadi TV atau bahkan Internet.
Hiburan yang disajikan begitu mengasyikan dan seru hingga membuat kita menjadi
lalai dan malas.Bukan hanya berpengaruh pada kelalaian mengerjakan tugas namun
juga dapat menyebabkan lalai dalam beribadah bahkan cenderung malas.
b.
Dampak
Positif
Banyak sekali pengaruh buruk
akibat Globalisasi yang kita rasakan.
Namun tentunya masih ada pengaruh positif Globalisasi Bidang Sosial Budaya
yang dapat kita rasakan, atau mungkin bagi sebagian banyak orang sudah
mengalaminya.
1.
Meningkatkan
pembelajaran mengenai tata nilai sosial budaya, cara hidup, pola pikir yang
baik, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangsa lain yang telah maju.
2. Meningkatkan etos
kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin, mempunyai jiwa kemandirian,
rasional, sportif, dan lain sebagainya.
Setelah membahas bagaimana Globalisasi dapat memberikan dampak yang begitu
dahsyat bagi kita semua, ada satu hal pengaruh Globalisasi yang saya rasa dapat
dikategorikan sebagai dampak positif sekaligus dampak negatif, yaitu “Wanita
Karier (Emansipasi Wanita)”
(Memasak Didapur)
Dulu terdapat aturan bahwa anita tidak diperbolehkan masuk kedalam dunia
kerja. Tugas mereka hanyalah menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anggota
keluarga. Inilah ketentuan yang berlaku sebelumnya.
(Bekerja dikantor/perusahaan)
Namun pada era Globalisasi ini,
aturan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Mengurus Rumah Tangga bukanlah lagi
tugas wajib dari seorang wanita yang sudah berkeluarga. Banyak wanita yang
masuk kedalam dunia kerja. Dan tidak jarang mereka kaum wanita sukses menjadi
wanita karier ataupun memimpin perusahaan.
Mengapa dapat dikategorikan positif maupun negatif?
Karena wanita yang sudah
berkeluarga tentu memiliki tanggung jawab mengurusi
rumah tangganya selagi suami
berkerja.
Namun apabila wanita ikut berkarier, lalu siapakah yang akan
mengurus rumah?
Dan hal yang sangat fatal
adalah kurangnya kasih sayang ibu pada anaknya. Namun
hal ini menjadi positif
manakala wanita membawa perubahan baru, ikut memperbaiki
perekonomian. Mungkin yang
perlu disikapi adalah mengambil hal positifnya dan
meminialisir kemungkinan
buruknya.
G. Tindakan Yang Mendorong Timbulnya
Globalisasi Kebudayaan Dan Cara Mengantisipasi Adanya Globalisasi Kebudayaan
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada
pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan
merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya
yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’,
mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif
mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur
tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak
ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks
kultural. Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku
aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana
banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha merubah agar sesuai
dengan tuntutan pembangunan.
Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu
sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan
tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai
objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan
dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh
nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan.
Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat
mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau
natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi
sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan
rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya
kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya
sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan
tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut
mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat
keasliannya dan cenderung dapat membosankan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang
tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian
rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai
pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur
dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini
membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari
keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang
sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian
(oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut. Oleh karena itu
pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang
melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut
tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik.
Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti
saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Kita harus beradaptasi
dengannya karena banyak manfaat yang bisa diperoleh. Harus diakui bahwa
teknologi komunikasi sebagai salah produk dari modernisasi bermanfaat besar
bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara masal dan merata.
Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya.
Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang
keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal
selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi
perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi
dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia
yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas
dari pengaruh kontak budaya ini. Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian
terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat
global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya
yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan
nasional.
Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset
kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para
pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme,
politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang
dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa
menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian
tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin
dijauhi masyarakat. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian
rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat
canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif
sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat
memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan
sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang
merupakan imbas dari budaya pop. Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada
beberapa alternatif untuk mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia
(SDM ) bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat
pemerintah sebagai pengayom dan pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya
demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau
dana-dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja
H. Cara Menyikapi
Globalisasi
Meskipun Globalisasi sebagian
banyak merugikan kita, namun kita tidak bisa menghentikan laju Globalisasi.
Globalisasi adalah tantangan hidup yang harus dihadapi bukan dihindari. Lebih
kepada memanfaatkan Globalisasi sebaik mungkin, maka akan mengurangi dampak
negative Globalisasi atau bahkan mungkin dampak negatifnya dapat kita hilangkan.
Lalu bagaimanakah cara kita
menghadapi Globalisasi yang sudah didepan mata? Jika tidak cermat dalam
menentukan langkah maka yang fatal terjadi adalah “BUDAYA ASLI YANG HILANG
DITELAN BUMI” Berkaitan dengan dampaknya dibidang social budaya, maka
sebagai generasi muda penerus bangsa, kita harus mengambil sikap untuk
menghadapi Globalisasi,
diantaranya:
1.
Meningkatkan
Kualitas Nilai Keimanan Dan Moralitas Masyarakat Meskipun Globalisasi datang
dengan setumpuk pengaruh negative, namun dengan perisai keimanan dan moral yang
tinggi, maka pengaruh Globalisasi khususnya yang menimbulkan sifatsifat seperti matrealistis, hedonisme,
permisif, dan lainlain tidak akan bisa menguasai diri kita. Maka keimanan dan
moral kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara perlu
dibenahi dan ditingkatkan lagi.
2.
Meningkatkan Jiwa
Dan Semangat Persatuan, Kesatuan, Dan Nasionalisme Lunturnya sikap gotong
royong, tolongmenolong yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita diakibatkan
kurangnya rasa persatuan. Jiwa indivisualisme lebih kental pada setiap
individu. Rasa kesatuan dan Nasionalisme pun ikut pudar karena lebih memilih
halhal yang menguntungkan saja. Perlu adanya kesadaran diri untuk memupuk dan
meningkatkan rasa persatuan, kesatuan dan Nasionalisme
3.
Melestarikan Kebudayaan
Dan Adat Istiadat Daerah Jika bukan kita sendiri sebagai generasi muda yang
turut melestasikan warisan budaya leluhur, lalu adakah orang lain? Kebiasaan
yang ada dalam masyarakat pun mulai hilang ketika Globalisasi dating.
Globalisasi perlahan lahan dapat mengikir budaya asli. Ini sangat berbahaya.
Sebagai generasi muda, kita harus melestarikan budaya dan adat istiadat daerah
bersama sama.
Setelah nilai globalisasi
menyatu dengan nilai dasar budaya bangsa maka kita sebagai bangsa yang
berdaulat berkewajiban menumbuhkan rasa kebanggaan sebagai bangsa, yakni dengan
cara mendidik anak bangsa agar menjadi manusia Indonesia yang dilandasi oleh
nilai nilai budaya bangsa dan memiliki kemampuan untuk ber kompetisi dalam
dunia global. Sikap positif lain yang perlu dikembangkan untuk bisa berperan di
era globalisasi adalah sebagai berikut:
a. Berkompetisi dalam kemajuan iptek;
b. Meningkatkan motif berprestasi;
c. Meningkatkan kualitas/mutu;
d. Selalu berorientasi ke masa depan.
Terlebih lagi kita memiliki
Pancasila yang merupakan penyaring terhadap pengaruh globalisasi. Kita sebagai
warga negara Indonesia harus memiliki sikap dan usaha untuk menghadapi pengaruh
dari proses globalisasi, di antaranya sebagai berikut.
·
Selalu berusaha
untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai
penyaring terhadap pengaruh globalisasi yang bersifat negatif.
·
Selalu meningkatkan
penghayatan dan pengamalan kita terhadap Pancasila untuk memperkokoh persatuan
dan kesatuan bangsa.
·
Selalu meningkatkan
ilmu pengetahuan kita agar dapat menilai mana yang dianggap baik dan benar
terhadap pengaruh globa lisasi.
·
Selalu meningkatkan
pendidikan dan keterampilan kita agar dapat menjadi manusia yang berkualitas
sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain.
·
Selalu meningkatkan
penguasaan kita terhadap teknologi modern di segala bidang sehingga tidak
tertinggal dan bergantung pada bangsa lain.
·
Selalu
mempertahankan dan melestarikan budaya lokal tradisional agar tidak digantikan
oleh budaya bangsa asing.
·
Selalu meningkatkan
kualitas produk hasil produksi dalam negeri sehingga dapat igunakan dan selalu
dicintai oleh masyarakat dalam negeri. Selain itu, produk hasil produksi dapat
bersaing dan dapat merebut pasar lokal serta
internasional.
·
Selalu menumbuhkan
sikap terbuka dan tanggap terhadap pembaruan sehingga mampu menilai pengaruh
yang dinilai baik bagi pembangunan. Jadi sifatsifat positif manusia modern
sangat penting dikembang kan dalam era globalisasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan
pengaruh yang negatif bagi kebudayaan dan juga kehidupan social bangsa
Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia
perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik
yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan
pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan
dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk
pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah
menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan
tidak pernah lagi terpisah, Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak
ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan
kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas
kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan
sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial
budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan
budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa.
B. Saran
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa
tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu :
1. Pemerintah perlu mengkaji ulang
perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran budaya bangsa
2. Masyarakat perlu berperan aktif
dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada
umumnya
3. Para pelaku usaha media massa perlu
mengadakan seleksi terhadap berbagai berita, hiburan dan informasi yang
diberikan agar tidak menimbulkan pergeseran budaya
4. Masyarakat perlu menyeleksi
kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak
merugikan dan berdampak negative.
5.
Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru,
sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada
kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita
DAFTAR PUSTAKA
Kuntowijoyo,
Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam
Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Sapardi
Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil
dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia,
Mizan 1997.
Fuad
Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam
http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload
7/15/04.
Koenjaraningrat.
1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Adeney,
Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius. Al-Hadar
Smith, “Syariah dan Tradisi Syi’ah Ternate”, dalam
http://alhuda.or.id/rub_budaya.htm , didown load 7/15/04.
Jennifer,
Lindsay (1995) ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’
Radhakrishnan
(1924) “Eastern Religion and Western Though”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar